11.05.2011

Dorm Stuff vs Mr. Right





Wallpapernya dibuat dari karton dan origami. Ini Gieta (my beloved roomate) yang buat lho! Pulang dari interview AIESEC, kaget juga ngeliat Gieta lagi sibuk ngegunting origami. Kreatif Giet!
Setelah memperhatikan, bentuknya pas banget buat ekspektasi selama kuliah ini: combination of star and love.

Star atau bintang, melambangkan dream, cita-cita, juga prestasi. Sebagai pengingat untuk selalu produktif dan engga boleh males-malesan.
Love atau cinta. Sembari mengejar cita-cita, bolehlah mencari cinta. Tapi sampai sekarang, efeknya malah bikin para penghuninya menggalau saban hari.

"Aduh, mau banget ada yang modusin"
"Yaampun Kak bla-bla-bla online!"
"Eh, ganteng tuh, ganteng, yah tapi udah punya cewe."

Ternyata setelah melakukan penelitian, kegalauan seperti ini engga hanya terjadi di kamar kami. tapi juga menghinggapi hati para wanita. Lebih tepatnya wanita-wanita single (atau jomblo?)!
Pengen juga sih ada 'seseorang' yang bisa diajak diskusi, yang nemenin ngerjain tugas sampai malem, yang bisa mengingatkan dan menasehati, yang mau diajak susah apalagi hahaha.
Ditambah ngelihat temen-temen sudah pada punya 'seseorangnya' masing-masing. Duh!

Untuk menjaga perasaan itu tetap pada jalurnya, juga mengingat hukum dalam kepercayaan yang saya anut (islam), saya selalu percaya bahwa wanita yang baik diciptakan untuk pria yang baik, begitupun sebaliknya.

Mungkin saja saya belum dipertemukan oleh 'seseorang' itu karena jodoh saya nilainya sudah 9 sedangkan saya masih 3. Jadi Allah memberikan saya waktu untuk memperbaiki diri terlebih dahulu.

so how'll I ever find the right Man?
Forget finding the right Man, focus on being the right Woman :)

Enjoying College Life









Class F-Economic and Business Faculty of Gadjah Mada University

it always hard for the beginning

but when i tried to enjoy it, everything seems possible.

You make me feel enjoy in Jogja, friends :)


Be nice, always.


10.16.2011

Integrity in My Profession as an Accountant

When the news about crime of corruption has spread widely, it can’t be separated from people who has political will about finance. It’ll also make a new public opinion. Especially for the job like accountant. The joke came up when someone who want to take the economic field. They family or friends will said don’t be a corruptor. It’s so sad because public paradigm moved to make economic and corruption looks equal.

One of the dangerous part is frightened about dirty situation in economic exceed the eagerness to solve that situation. It caused the economic position will be occupied with someone who just want a private profit making.

This situation may be found in accounting area. Moreover, accountant has a capability to make a decision about financial plan. Accountant can read the risk and the chance. It’s a gate lead up dark or bright future.

The one can avoid the worst is integrity. Integrity is a self-respect. Honesty to ourselves and others. The quality of integrity is not a trait that we are born with, but it is learned as we go through life. Integrity begins when we were very young, usually taught by parents, grandparents, neighbors, teachers, and friends. Integrity involves respect for self, respect for others, and responsibility for all your action.

Integrity is expensive and accountant with integrity is more and more precious.

10.14.2011

Kontribusi (?)

Kontribusi (?)


Membuat tulisan bebas adalah salah satu hal yang paling menantang. Karena membuat tulisan bebas memerlukan kemampuan untuk menuangkan begitu banyak ide, begitu banyak keinginan menjadi satu tulisan. Bagaimana memilih satu topik dari sekian banyak topik yang ingin kita angkat.

Tidak beda jauh dengan sebuah NGO, LSM, atau organisasi lainnya . Kemampuan dari masing-masing anggota untuk menyatukan tujuan dari berbagai macam motivasi yang mereka miliki sebelumnya. Memilih prioritas dan bentuk kontribusi apa yang bisa mereka berikan untuk negeri.

Bicara kontribusi, setiap orang punya kesempatan untuk bisa berkontribusi, memberikan sesuatu untuk negeri. Siapapun bisa, siapapun. Namun, kontribusi kini seringkali dikaitkan dengan social act, campaign, atau gerakan-gerakan besar lainnya. Sehingga banyak orang menjadi bingung, apa yang harus dilakukan untuk bisa berkontribusi? Darimana saya harus memulainya? Atau takut kontribusi saya tidak diterima oleh masyarakat.


Padahal makna kontribusi itu luas. Tidak harus dengan go green, fight poverty, against corruption untuk bisa berkontribusi. Dengan bakat, keahlian, talenta yang kita miliki, kita bisa berkontribusi. Bahkan cukup kita mulai dengan sesuatu yang kita cintai.

Misalnya saja, karena kecintaannya dengan musik, Iga Massardi membuka Kelas Gitar Gratis setiap akhir pekan. Karena kecintaannya dengan anak dan budaya, Rudi Correns membangun museum anak Kolong Tangga. Just do what you love and love what you do.

So contribute what you want to give.




*sumber gambar: myselfspeaks.blogspot.com

10.13.2011

Meja Makan Made in Holland

Artikel ini dimuat dalam studiddibelanda.com

Alhamdulillah artikel ini membuat saya bisa mentraktir beberapa teman makan di resto yang cukup mewah (terpaksa -_-) dan mengantarkan pertemuan saya dengan mas-mas yang, subhanallah, baca Alquran sembari menunggu bus di daerah Blok M, Jakarta. Benar-benar mengalihkan dunia!

Meja Makan Made in Holland


Anak-anak adalah sumber daya yang paling bernilai. Hingga berbagai pihak pun berusaha merawat dan menjaga mereka sebaik-baiknya dengan memberikan pendidikan yang bermutu, membangun fasilitas untuk mengembangkan bakat, dan sebagainya. Namun hidup anak-anak bukan hanya sebuah ajang mengukir prestasi. Hidup mereka lebih dari itu: merasakan kebahagiaan.
Achieving is important, but there is no sense in overdoing it

-Gellauf

Di tengah dunia yang semakin kompetitif ini, Belanda memberikan pelajaran kepada kita soal kebahagiaan anak-anak. Bayangkan, lebih dari 90% anak-anak di Belanda merasa bahagia. Bahkan mereka tidak minum-minuman, merokok, atau berhubungan seks sebelum waktunya.

Inilah yang mengantarkan Belanda menyandang gelar The happiest kids in Europe, Anak paling Bahagia di Eropa berdasarkan survey yang diadakan oleh WHO, UNICEF International, dan German UNICEF Foundation. Apa rahasianya?


Hal menarik yang saya tangkap, salah satu rahasia kebahagiaan mereka ada pada sebuah meja makan. Meja makan dalam hal ini adalah sebutan untuk apapun tempat meletakkan dan menyantap makanan.

Mulai dari sebuah meja makanlah, anak-anak Belanda belajar kebersamaan juga kebebasan. Di depan meja makan, orangtua, anak, dan kerabat dekat saling bertemu. Sekitar 70% orang tua di Belanda selalu memiliki waktu untuk keluarga dan anak-anak. Mereka menyantap makanan bersama-sama. Makan bersama telah menjadi bagian hidup sebuah keluarga di Belanda sejak lama bahkan menjadi sebuah budaya.

Banyak ilmuwan sosial juga studi lebih lanjut dalam Archives of Family Medicine mengatakan bahwa makan bersama, bekerja seperti sebuah vaksin. Melindungi anak-anak dari segala macam bahaya. Studi itu menunjukkan bahwa anak-anak yang makan bersama lebih sedikit kemungkinannya untuk merokok, minum-minuman, dan obat-obatan terlarang. Mereka biasanya memiliki reputasi yang baik di sekolah. Dan Belanda pun berhasil membuktikannya.

Meja makan, salah satu tempat keluarga Belanda membangun identitas dan budaya. Cerita diturunkan, canda dan tawa pun dibagikan. Anak-anak mempelajari percakapan. Mereka mendengar bagaimana masalah dipecahkan, belajar mendengarkan masalah orang lain dan menghormati selera makan saudaranya.
Sebuah seni mendidik yang membawa anak-anak Belanda menjadi anak paling bahagia di tanah Eropa.

Pendidikan berkualitasdi meja makan tentang hidup yang telah diajarkan sejak dini, membawa Belanda menjadi salah satu negara terbaik untuk hidup (11th Best Country to Live, magazine of International Living). Juga menjadikan Belanda sebagai tempat tinggal paling bahagia (1st in Happiest Living, Gallup World Poll Survey). Hingga masuk dalam 10 negara terbaik dalam berbagai macam hal.

Maka tidaklah heran jika Belanda masih menjadi salah satu negara impian yang ingin disambangi oleh para pelajar dan wisatawan di seluruh dunia.

Seni mendidik sederhana dari meja makan Belanda ini semoga bisa menginspirasi keluarga di Indonesia.
Other things may change us, but we start and end with the family.
-Anthony Brandt

Referensi:
http://www.dutchdailynews.com/dutch-kids-happiest/
http://www.dw-world.de/dw/article/0,,2356219,00.html
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/1/hi/world/europe/6360517.stm
http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1200760,00.html
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/mendidik-ala-belanda-dengar-pendapat-anak

Gambar:

tdwclub.com

9.23.2011

When I'm Down (SNMPTN) Part 1

Lagi buka-buka file lama dan menemukan sebuah file dengan judul "Never Give Up" di harddisk. Ternyata sebuah tulisan yang saya buat sebelum SNMPTN Tertulis. Pas baca lagi jadi sedih dan teringat masa-masa perjuangan itu. Semoga bisa diambil pelajaran.


Never Give Up


Menjadi dokter adalah salah satu impian terbesar saya. Mimpi akan kedokteran telah saya bangun sedemikian rupa hingga terasa indah sekali untuk sekedar dibayangkan.

Tanggal 17 Mei 2011, saya dan beberapa sahabat berkumpul untuk melihat pengumuman SNMPTN Undangan bersama-sama.  Memasukkan nomer ujian dengan gemetar diselingi halaman twitter yang Alhamdulillah, penuh dengan keberhasilan teman-teman yang sudah diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Bismillahirrahmanirrahiim.

Saya memasukkan nomer ujian dengan perlahan dan mengkoreksi setiap angka yang saya ketik,

dan… Ya. Saya menahan nafas beberapa detik.

Saya tidak lulus seleksi.

Saya tidak lulus FK UI.

Begitu pula sahabat-sahabat saya di ruangan itu. Kami semua tidak lulus SNMPTN Undangan. Seperti sebuah takdir yang mempertemukan kami untuk saling menguatkan saat itu.

Sungguh, saya tidak tahan untuk tidak menangis. Sambil menahan air mata, saya pamit sebentar untuk memberi kabar orang-orang di rumah. Saya berlari menuju rumah ditemani angin malam yang kencang.

Di sepanjang jalan, saya menangis. Saya tidak peduli lagi dengan orang-orang di jalan yang memperhatikan saya.

Sesampainya di rumah, saya langsung bersujud di kaki kedua orang tua, di kaki mama dan ayah. Di bawah kaki mereka, saya terus menangis. Menangis sejadi-jadinya. Ayah langsung menarik saya berdiri sambil menyeka air mata yang juga turun dari kedua matanya.

Lima hari saya mengurung diri di kamar. Keluar kamar pun hanya sesekali. Menghampiri mama lalu menangis. Mental saya jatuh. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Mungkin terlihat berlebihan, tapi sungguh, itu yang terjadi.  Saya takut menghadapi kegagalan. Saya takut untuk menghadapi kegagalan lagi di ujian selanjutnya: SNMPTN Tertulis. Yang hanya berselang 2 minggu dari pengumuman.

Saya belum siap untuk menghadapi kenyataan kalau saya….tidak menjadi dokter.

Sampai suatu malam, ayah memanggil saya. Lalu mulai berkata,

 Ayah dan mama atau siapapun, engga ada yang bisa ngebantu kakak. Cuma kakak yang bisa bantu diri kakak sendiri. Ayah dan mama hanya bisa berdoa.

Kak, kalaupun ayah dan mama berdoa, tapi dalam diri kakak sendiri tidak ada keyakinan kalau kakak bisa, semuanya itu percuma. Ibaratnya, mama dan ayah sudah memberi aliran listrik 10000 mega ampere  tapi daya kakak cuma 2 watt.  Instalasi nya engga nyambung.

Kak, ayah engga berharap apa-apa lagi kecuali keyakinan diri kakak kembali. Inget Kak, bukan kemenangan mendapatkan kursi di PTN aja yang kaka perjuangin. Tapi lebih dari itu, KEMENANGAN MENTAL.

Waktu ayah menghadapi tes wawancara dengan kondisi ayah yang engga bisa mendengar lagi (tuli), kakak yang selalu semangatin ayah dan bilang kalau ayah bisa. Kakak yang selalu memotivasi ayah. Sekarang waktunya kakak untuk membuktikan ucapan kakak ke ayah dulu.

Ayah benar. Begitu mudahnya saya memotivasi orang lain. Menulis kalimat-kalimat penyemangat. Membuat cerita-cerita inspirasi. Sekarang lah saatnya bagi saya untuk mempertanggungjawabkannya.

So I’ll never give up, never give in, never let a ray of doubt slip in. And if I fall, I’ll never fade, I’ll just get up and try again.


Sekarang bukan lagi kursi PTN yang ingin ditaklukan.

Tapi mental tempe yang ada dalam diri.

bersambung.

9.21.2011

Lucky Roomate

Now and for several next years, i lived in Yogyakarta and sharing room with my besties, Gieta. She often cooks for us and I feel so lucky not because of her cook but also friendship among us! :)

the number of our room in UGM dormitory


Here we come


we merged our bed to minimize fearness in the night


we are here to fight to be a great accountan and diplomat


I created this photo frame when 16th Gieta's Birthday



Even I have no biological family in Jogja but for me Gieta is my sister here. She reminds me to pray, cooks fried rice, noodles, and another experiment foods, she accompanies me and it's pretty cure homesickness. Thanks Giet! :D

Taken with Blackberry Curve Camera (hope can own my slr asap :))